BPPT Dorong Pemanfaatan Energi Alternatif

JAKARTA: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mendukung dihapuskannya subsidi bahan bakar minyak untuk mendorong pemanfaatan energi alternatif.

“Subsidi BBM menyebabkan keengganan dalam penggunaan sumber energi alternatif,” kata Deputi Kepala BPPT bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material Dr Unggul Priyanto di Jakarta, Kamis (10/3).

Dengan disubsidi, harga BBM menjadi tampak murah sehingga membuat orang tidak berpikir untuk berhemat dan berupaya keras mencari sumber-sumber energi terbarukan sehingga investasi energi alternatif terhambat, katanya.

“Dengan BBM yang murah Rp4.500 per liter dari harga sebenarnya Rp8.300, selain berarti pemerintah harus mensubsidi Rp3.800 per liter, membuat energi alternatif misalnya energi biofuel menjadi tampak mahal,” katanya.

Selain itu, subsidi BBM menggerogoti anggaran pemerintah terutama bila harga minyak semakin tinggi, mendorong penyelundupan BBM ke luar negeri, dan tidak adil karena lebih dinikmati golongan menengah ke atas serta menimbulkan keengganan penggunaan transportasi publik.

Demikian pula jika subsidi listrik terus diberlakukan, menurut dia, hanya akan menggerogoti anggaran pemerintah, menimbulkan keengganan pihak swasta untuk investasi kelistrikan terkait keterbatasan anggaran pemerintahdan PLN.

Selain itu, lanjut dia, menimbulkan dampak kekurangan listrik karena anggaran tersedot ke subsidi, menghambat peningkatan rasio elektrifikasi nasional serta tidak mendorong masyarakat berhemat karena mengganggap listrik murah.

“Ini juga tidak adil karena yang menikmati kebanyakan golongan menengah ke atas, sementara 35 persen masyarakat yang belum bisa menikmati listrik sudah pasti tidak menikmati subsidi tersebut,” katanya..

Sebesar 62% penggunaan BBM memang untuk sektor transportasi, disusul 15 persen untuk sektor industri, 14 persen untuk listrik dan8% untuk rumah tangga.

“BBM bersubsidi 60% merupakan premium, 34% solar. Kebanyakan pengguna premium adalah kendaraan pribadi, sedangkan kendaraanumum dan untuk usaha kebanyakan menggunakan solar,” katanya.

Pihaknya juga merekomendasikan pemberian subsidi BBM ke kendaraan umum menggunakan smart card, mensubsidi komponen kendaraan umum, mengalihkan uang subsidi BBM ke pangan, kesehatan, dan sekolah serta menerapkan subtitusi BBM ke sumber energi alternatif yakni gas, dan bahan bakar nabati. (ADN)

Source: media Indonesia

Share