Solusi Menghadapi ACFTA: Pilihannya Cuma Pertanian dan Perikanan

Dunia saat ini sedang menghadapi krisis global, tidak hanya bersumber pada krisis ekonomi yang semakin hari semakin terasa dampaknya, tapi juga terjadinya krisis lingkungan, sosial, pangan, dan energi. Globalisasi sudah merambah seluruh sektor. Salah satu dampak yang sangat mengkhawatirkan banyak pihak adalah pelaksaanaan ACFTA yang dimulai sejak bulan Januari 2010.

ACFTA (ASEAN-China Free Trade Agreement) dikhawatirkan bakal menghancurkan industri nasional. Sebab, tarif bea masuk barang-barang dari Cina ke ASEAN, khususnya Indonesia menjadi nol persen. “Kondisi itu, akan mengancam industri kita karena produk Cina yang terkenal murah akan menjadi saingan terberat produk kita.Tak hanya itu. Penerapan ACFTA juga akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) massaldan menyebabkan banyak industri rakyat mengalami gululung tikar.

Lalu apa yang pemerintah harus kerjakan untuk menyelamatkan ratusan juta jiwa rakyatnya? Pemerintah harus mengutamakan dan mengandalkan PERTANIAN dan PERIKANAN. Kebijakan Presiden SBY hendaknya (wajib) memprioritaskan sektor pendidikan, pertanian, dan perikanan. Kebijakan makro ekonomi Indonesia hendaknya berorientasi kepada pertanian dan perikanan (dalam konteks perdagangan global).

Indonesia masih kuat di sektor agribisnisnya. Untuk itu perlu digenjot produk-produk agrobisnis dan agro industri seperti kelapa sawit, karet alam, kakao, rempah-rempah, produk Biofarmaka, pulp dan kertas, kopi, minyak atsiri tanaman obat, gambir dan rotan. Juga komoditas non komplementer potensial seperti buah-buahan tropika (mangga, nenas, pisang, durian, manggis, rambutan, pepaya), sayuran tropika khusus (kacang panjang, nangka, labu siam, kangkung), ikan tangkap, udang, rumput laut dan makanan olahan khas Indonesia.

Apabila Indonesia sudah swasembada pertanian dan perikanan, negara kita akan masuk zona aman. Kita tidak perduli lagi, kurs dolar mau naik melebihi 15 ribu rupiah. Karena kita tidak impor beras, ikan, dan industri tambahan (ikutan) kedua sektor itu. Bahkan para petani dan nelayan kita tambah senang kalau nilai tukar dolar naik. Soalnya kita sudah mampu ekspor.

Untuk itu sebagai mahasiswa pertanian kita harus mampu membantu pemerintah dalam memajukan pertanian indonesia, kita harus bisa berkontribusi dalam meningkatkan  kualitas dan produktivitas pertanian indonesia. Sehingga pertanian pun dapat menjadi solusi dalam mengatasi ACFTA.

Klik here…!!!!

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *